PILSAFAT HIDUP
( RUDI, S.Pd. )
Hidup laksana air
mengalir mengikuti riak waktu
menjelajah alur kemauan dan harapan
menuju muara yang tak dibatasi hujung kepuasan
Hidup ibarat arus
Membawa kita pada kebebasan menentukan pilihan
Menjadi “BATU ?”
kokoh menahan deras dan riak pada ego kekuatan dada
membiarkan ombak menampar – nampar duka
abaikan pasir mendera – dera luka
Atau menjadi “IKAN ?”
Mengadabtasi sesuka hati
Larut dalam arus, atau sesekali mampu melawan arus.
mengikuti naluri
mengembara seisi musim dengan insting
rela membayar duka dengan cinta
dan mengabulkan semua yang dipinta alam
meski harus menebusnya dengan regangan nyawa
Mungkin jadi “DAUN KERING ?”
Jatuh luluh tertiup angin
Melayang tanpa arah bersama riak gelombang
dan pasrah tanpa bantah dalam ketidakberdayaan
Tersangkut ranting
Terhempas badai
lantas tenggelam terkubur lumpur
Atau membusuk di akar rerumputan liar
Menjadi apa pun pilihan kita
Hanya kita sendiri yang bisa
Karena hasilnya jadi milik kita juga,
SEPERTI SEPINYA HATI
( RUDI, S.Pd. )
Katakan pada derai hujan yang merintih di kegelapan malam
Aku menunggu mentari yang terbit esok hari
Menitipkan harap di bersit sinarnya
Moga dapat menghangatkan jiwa
Menyibak luka
Menghibur sepi di hati
Setelah semalaman merangkai doa
Menguntai pinta pada Sang Maha
Agar kelam legamnya bumiku
Dari polusi keserakahan dan nafsu
Dari pertengkaran para pemain sandiwara di persada
Yang bergulat memperjungkan kuasa
Untuk kemudian perlahan sirna
Tersibak sinarmu nan membawa berjuta penantian
Berganti hangat sampai seharian, nanti
Dan mengubah sepi seperti sepinya hati
Berganti suka cita yang abadi
Dan terus merona citra dalam cinta
Jauh di lubuk bumiku yang sudah tak muda lagi.
DENIS…. BUKAN RUMPUT LIAR LAGI
( RUDI, S.Pd. )
Merumpun tumbuh di tanah kering
Bersahabat dengan hamparan tanah retak dibakar kemarau
Ilalang pun menatapnya dengan wajah penuh cibiran benci
Menganggapnya tak berarti
Hati-hati kupindahkan kau di taman depan rumahku
Taman kecil yang tak memiliki rumput, kecuali pot-pot bunga tanpa keakraban
Kutanam kau dekat jabangan di sisi aliran air sejuk penuh derai kasih
Membiarkan embun mencumbui hari-hari indah bersama recup surya
Anggrek, melati, juga mawar menemani kau selalu
Menghantarkan semua harapan menjadi kenyataan
Hingga kuning daunmu yang dulu, berubah hijau segar menatap langit biru
Penuhi sekujur taman sampai ke sisi pagar bak permadani
Rumput liar kini bersahaja tanpa nestafa
Hijaukan tamanku yang dulu hanya bunga di pot-pot tanpa keakraban
Kini kau cipta kehangatan cinta kasih laksana pelangi seribu warna
Betahkan embun bercanda dengan belalang kecil yang bersahabat
Ia hadir pernuh arti sekarang, tanpa cibiran benci ilalang angkuh di asalnya dulu
Denis bukan lagi rumput liar kini, karena kau menghijau jauh di lubuk hatiku
(Denis seorang pngamen kecil di terminal Baranang Siang Bogor yang kini jadi anak penuh arti di rumahnya yang baru.)
AKU
( RUDI, S.Pd. )
Aku adalah lilin
Luluh lebur demi pijar nan menerangi
Tapi bukan untukku sendiri
Aku adalah embun
Berkilau di hujung bunga dan daun
sejukan bumi selepas malam yang mengayun
basahi tanah di sela rerumputan nan merumpun
Meski kan sirna kemudian, terhempas angin yang mengalun
Aku adalah Oksigen
Menyeruak dari klorofil hijaunya daun
Mengalir dalam darah demi kehidupan
Menjegal setiap kobaran pemanasan yang menghancurkan
Meski tak segelar pahlawan pun yang kan kurasakan
Aku adalah lilin
Aku juga Embun
Dan aku oksigen
Yang lahir dan sirna bukan hanya untukku sendiri
Meski tak segelar pahlawan pun yang kan kurasakan
Sampai nanti
Sampai bumi tak bersahaja lagi
BUNDA
( RUDI, S.Pd )
Saat gundah tak kuasa terjemahkan resah,
bunda hadir suguhkan secangkir senyum manis kehangatan.
adalah kau pelipur dahaga saat nestapa melanda jiwa “nanda”.
adalah kau jua berikan cahaya manakala kelam mengancam.
dan kau adalah muara cinta yang senantiasa kudamba.
Bunda, telaga kasih sayang tak terukur luas dan dalamnya.
harum bau wangi surgawi membahana pada setiap langkah dan ucap nasihatmu.
sabarmu tergambar pada setiap helaan napas yang terkadang terengah karena lelah.
hadirmu jadi pinta “nanda” saat gersang melanda batin dari kemarau panjang.
Bunda……
Di 60 tahun perjalanan waktu yang telah kau tapaki
Ijinkan “nanda” bersimpuh dikedua kakimu
Menghatur maaf nan tak terhingga dari lubuk teramat dalam
Sebab “nanda” belum jua mampu berikan harapan terbaikmu
yang sering kau kumandangkan sampai ke langit nun jauh sana
menembus awan sampai ke ubun-ubun pertiwi lewat do’amu.
SERANGKUM DO’A UNTUK PERTIWIKU
(RUDI, S.Pd)
Maafkan pertiwiku yang cantik molek
Bentang menjambrud katulistiwa sampai ke laut, gunung dan samudera
Aku tak kuasa menahan cinta di dada yang bergemuruh berombak badai
Inginkan terus bercumbu dengan elok paras wajahmu
Bersama gemulai tarian adat budaya yang kau punya
Semua ingin kunikmati sepanjang hanyat bersemayam di raga
Namun belakangan waktu kau nampak murung
Pantai landai ternoda bencana
Gunung biru diguncang prahara gempa menggema
Sawah ladang terkena hama
Tikus – tikus merusak perkantoran, tak kenal batas waktu
Hukum tak lagi jadi pagar kokoh pembatas parit, sungai bahkan lautmu
Aku tak kuasa melihatmu seperti itu
Kau dirundung nestafa duhai pertiwiku tercinta
Demi cinta yang kupunya
Kupunguti rasa setia yang porak poranda
Kubangun kembali pondasi kasih dengan susah payah
Seraya kurangkumkan do’a untukmu pertiwiku
Lekaslah sembuh dari segala nestafamu
Dan kembalilah menjadi pertiwiku seperti dulu
Minggu, 09 Mei 2010
Langganan:
Komentar (Atom)
