Bertualang mencari tapak kaki keesokkan
mengharap becek jalanan dari gerimis menjadi kenangan manis
untuk aku dan sang mentari pagi sebelum disaput awan
tapi aku tidak kuasa menanti hasil dari sisa air mata
yang kering diserap hujan menguap ke langit
sebagai tanda kepasrahanku pada derak derai waktu
Diam....
diam saja burung itu melihat daun kering
melayang-layang menghampiriku
mereka memperhatinkan aku tentang kepasrahan yang dipaksanakan
tapi itulah kenyataan
bumiku sudah tak ramah lagi
menuding-nudingkan jemarinya padaku dengan murka
penuh sumpah serapah
memponis munafik padaku
meski jujur, aku sebening air
tanpa selapang safana
karena aku tetap sadar akan hangatnya embun
setelah bercumbu dengan binar mentari
Diam....
akupun diam seperti pipit menatap daun kering
yang melayang-layang
menghampiri senja
seraya menghitung sisa napas yang kurajut
dengan segala rindu akan kemerdekaan sejati.
Jumat, 25 Juni 2010
Selasa, 22 Juni 2010
PUISI TERBARU
AKU SANG NESTAFA
Seperti angin lembut di deras hujan petang ini
desirnya membelai fajar sebelum tertutup malam
tanpa cericit pipit yang lincah diantara ranting cemara
yang tak lelah menjajakan cinta pada binar mentari
aku bukan awan di hujung langit
yang akrab bencengkrama dengan musim
yang terus berganti seiring waktu
dan aku juga bukan petang yang akan datang
aku hanya helaan nafas kelelahan dari jaman
mengejar mentari dengan perlahan lahan
sampai tak terasa renta merayapi ketidak dewasaanku
karena terlena selalu menghitung waktu
aku hanyalah nyanyian petang
dari sederet nada kehidupan dari rangkaian melodi nestafa
sebelum cinta ini terkubur ketidak berdayaanku sendiri
entah lah....
aku trak pernah mengerti semua itu
Seperti angin lembut di deras hujan petang ini
desirnya membelai fajar sebelum tertutup malam
tanpa cericit pipit yang lincah diantara ranting cemara
yang tak lelah menjajakan cinta pada binar mentari
aku bukan awan di hujung langit
yang akrab bencengkrama dengan musim
yang terus berganti seiring waktu
dan aku juga bukan petang yang akan datang
aku hanya helaan nafas kelelahan dari jaman
mengejar mentari dengan perlahan lahan
sampai tak terasa renta merayapi ketidak dewasaanku
karena terlena selalu menghitung waktu
aku hanyalah nyanyian petang
dari sederet nada kehidupan dari rangkaian melodi nestafa
sebelum cinta ini terkubur ketidak berdayaanku sendiri
entah lah....
aku trak pernah mengerti semua itu
Langganan:
Komentar (Atom)
