Kukenal kau sejak kita diterminal kecil sisi Jakarta yang kotor
kau cerita banyak tentang perjalanan pahit
menelusuri rimba kehidupan yang membuatmu sakit
hingga terjatuhlah kau di hitam kelamnya dunia malam
mencari sisa harap yang lama ternoda karena dusta sang fatamorgana
Kau kukenal saat menangis di sudut terminal kecil sisi Jakarta yang kejam
yang telah menukar segala milikmu dengan noda nestafa
yang terus tanpa dapat kau hentikan berjalan bagai aliran air
bahkan semakin deras
karena kebutuhanmu semakin menindas
Kau kukenal saat nyatakan cinta padaku, di terminal kecil sisi Jakarta yang jorok
sejorok cinta yang tiba-tiba menyelinap di hati
dan meluncur menembus jantungmu lewat bawah alam sadarku
Kau kupeluk saat tersedu di terminal kecil sisi Jakarta penuh dengan tanda tanya
dan berjuta tanya itu kusantap tanpa jawab
hingga tersisa satu tanya, yang juga tak dapat kujawab
"pantaskah Kau Kucintai?"
Jumat, 05 November 2010
DENGAR TERIAKKU YANG TANPA SUARA
Membisu di penantian tanpa kata
kau tiada
kau begitu tega
dan aku ingin teriakan kerinduanku hingga menembus langit
meluncur ke angkasa tanpa batas
agar kau dengar
agar kau dengar
lantas sadar bahwa kita masih satu
masih memiliki rasa meski mulai hampa
Diam aku di gerbang momumen cinta kita
yang disitu tersimpin syair puisi kita
dari ungkapan kasih yang pernah bersemi
dan kini kau bawa pergi
membuat aku ingin teriak
menembus langit tanpa batas
meluncur sampai keangkasa raya
meski tanpa suara
karena suara itu telah ikut kau bawa pergi
pergi selamanya
kau tiada
kau begitu tega
dan aku ingin teriakan kerinduanku hingga menembus langit
meluncur ke angkasa tanpa batas
agar kau dengar
agar kau dengar
lantas sadar bahwa kita masih satu
masih memiliki rasa meski mulai hampa
Diam aku di gerbang momumen cinta kita
yang disitu tersimpin syair puisi kita
dari ungkapan kasih yang pernah bersemi
dan kini kau bawa pergi
membuat aku ingin teriak
menembus langit tanpa batas
meluncur sampai keangkasa raya
meski tanpa suara
karena suara itu telah ikut kau bawa pergi
pergi selamanya
Senin, 30 Agustus 2010
MALAM SERIBU BULAN
Malam ini kuberharap penuh pada Ilahi
berpasrah diri diantara sepi
menelusuri perjalanan masa lalu yang kulewati
menghitung salah dan alfa yang kutoreh di antara arung waktu tertapaki
dari ketidak sengajan atau bahkan kesengajaan di hati
Ini bukti cintaku pada-Mu
Kusujud simpuh meski di dada penuh malu
meminta kau lebur noda-dosa masa lalu
untuk kau sucikan batinku dengan cinta tulus-Mu
yah hanya dengan cinta-Mu
Malam ini aku besimpuh luruh
menyerahkan semua seisi tubuh
yang terlanjur basah segala salah laksana peluh
Aku bersudjud di sepanjang malam ini
menanti janji
dari kesucian hati
yang Kau ucap lebih baik dari seribu bulan yang kunanti
moga kuraih maaf-Mu sebagai pengganti
mengembalikan diri seperti bayi
berpasrah diri diantara sepi
menelusuri perjalanan masa lalu yang kulewati
menghitung salah dan alfa yang kutoreh di antara arung waktu tertapaki
dari ketidak sengajan atau bahkan kesengajaan di hati
Ini bukti cintaku pada-Mu
Kusujud simpuh meski di dada penuh malu
meminta kau lebur noda-dosa masa lalu
untuk kau sucikan batinku dengan cinta tulus-Mu
yah hanya dengan cinta-Mu
Malam ini aku besimpuh luruh
menyerahkan semua seisi tubuh
yang terlanjur basah segala salah laksana peluh
Aku bersudjud di sepanjang malam ini
menanti janji
dari kesucian hati
yang Kau ucap lebih baik dari seribu bulan yang kunanti
moga kuraih maaf-Mu sebagai pengganti
mengembalikan diri seperti bayi
Selasa, 17 Agustus 2010
NAPAS 65 NEGERIKU YANG SEPI
Entah apa ini
hari ini 65 tahun yang lalu
pekik merdeka penuh tangis haru
dianata tetes peluh perjuangan bercampur darah
bukti setia putra pertiwi
hari ini mengapa sepi.....
geliat merdeka seakan terlupa
dikubur dengan berjuta kisah pahit perjalanan anak bangsa
korupsi di mana-mana
harga mencekik sesakan nafas
berjuta janji menjadi dusta
mungkin itu yang membuat bisu hari ini
mentari pun enggan menyinari
ia hanya mengintip malu di balik awan
bahkan kemudian mentari basah teriram hujan
laksana tangisan dari berjuta luka yang membeban
Kisah merdeka menjadi dongeng usang
tak melakat di hati generasi sekarang
kalah oleh cerita kartun dan sinetron murahan
bahkan tersingkir oleh kisah selebritis yang ramai di persidangan
Mau kemana negeri ini setelah 65 ?
Kemiskinan tersebar di mana-mana
pengangguran meraja lela
kejahatan mencekam kejam
mau jadi apa?
Bangkitlah negeriku..!!
Maujula maju...!!
Sejahterakan rakyatmu.
agar nafas merdeka terasa di hati kita
hari ini 65 tahun yang lalu
pekik merdeka penuh tangis haru
dianata tetes peluh perjuangan bercampur darah
bukti setia putra pertiwi
hari ini mengapa sepi.....
geliat merdeka seakan terlupa
dikubur dengan berjuta kisah pahit perjalanan anak bangsa
korupsi di mana-mana
harga mencekik sesakan nafas
berjuta janji menjadi dusta
mungkin itu yang membuat bisu hari ini
mentari pun enggan menyinari
ia hanya mengintip malu di balik awan
bahkan kemudian mentari basah teriram hujan
laksana tangisan dari berjuta luka yang membeban
Kisah merdeka menjadi dongeng usang
tak melakat di hati generasi sekarang
kalah oleh cerita kartun dan sinetron murahan
bahkan tersingkir oleh kisah selebritis yang ramai di persidangan
Mau kemana negeri ini setelah 65 ?
Kemiskinan tersebar di mana-mana
pengangguran meraja lela
kejahatan mencekam kejam
mau jadi apa?
Bangkitlah negeriku..!!
Maujula maju...!!
Sejahterakan rakyatmu.
agar nafas merdeka terasa di hati kita
Dewa Pelangi Jingga
Di jingga langit temaram kau diam
membisu tanpa syair yang mengalun berpuisi
di antara rintik hujan dijingganya hati
basuhi luka dari sanubari yang sulit diganmbarkan dengan rindu
dewaku pelangi jingga adalah jelita khayal di pelupuk penantian
bernyanyi tentang sepi yang tak berhujung
bagai ringkikikan cinta tak terjawab
seusia do'a di malam sunyi senyap
Kau pelangi jingga diantara hamparan sisa nestafa
kurajut lagi walau hampa
menanti dewa yang tak pernah bertitah meski hanya satu kata
yang kerap kupinta di sela hujan kepedihan luka lama
dari dusta yang kau hujamkan sampai jauh ke jantung
membuatku letih berharap kau mencintaiku lagi
Kau pelangi jinggaku
yang membisu tanpa syair do'a dan permohonan
tapi aku tetap cinta kau
meski pedih terasa perih
diantara rinai hujan penyesalan
yang kuhaturkan padamu
duhai jinga pelangiku
membisu tanpa syair yang mengalun berpuisi
di antara rintik hujan dijingganya hati
basuhi luka dari sanubari yang sulit diganmbarkan dengan rindu
dewaku pelangi jingga adalah jelita khayal di pelupuk penantian
bernyanyi tentang sepi yang tak berhujung
bagai ringkikikan cinta tak terjawab
seusia do'a di malam sunyi senyap
Kau pelangi jingga diantara hamparan sisa nestafa
kurajut lagi walau hampa
menanti dewa yang tak pernah bertitah meski hanya satu kata
yang kerap kupinta di sela hujan kepedihan luka lama
dari dusta yang kau hujamkan sampai jauh ke jantung
membuatku letih berharap kau mencintaiku lagi
Kau pelangi jinggaku
yang membisu tanpa syair do'a dan permohonan
tapi aku tetap cinta kau
meski pedih terasa perih
diantara rinai hujan penyesalan
yang kuhaturkan padamu
duhai jinga pelangiku
Minggu, 01 Agustus 2010
SEPARUH KEMAUAN DI HATI
Masih ada butir harap yang kusimpan
butir itu kucumbui dalam penantian panjang
agar semua harap menjadi tumbuh kembang
berbuah kenyataan
Separuh kemauan yang tersisa sirna
dihempas nestafa dari penantian panjang
tanpa hujung di tepi kesudahan
hingga menjadi ketidak pastian yang kupetik kini
membuatku jemu
mengakhiru semua dengan amarah
Separuh kemauan di hati
di sisi lain yang tidak pernah terkabulkan lewat janji
kubawa pergi entah kemana kini
biar kuhitung saja waktu dari sisa kemauan
meski tetap tak terkabulkan jua
butir itu kucumbui dalam penantian panjang
agar semua harap menjadi tumbuh kembang
berbuah kenyataan
Separuh kemauan yang tersisa sirna
dihempas nestafa dari penantian panjang
tanpa hujung di tepi kesudahan
hingga menjadi ketidak pastian yang kupetik kini
membuatku jemu
mengakhiru semua dengan amarah
Separuh kemauan di hati
di sisi lain yang tidak pernah terkabulkan lewat janji
kubawa pergi entah kemana kini
biar kuhitung saja waktu dari sisa kemauan
meski tetap tak terkabulkan jua
Rabu, 07 Juli 2010
SEBENING RINDU SANG EMBUN
Hampir lelah kuhitung
sisa serpihan harap yang masih bersemayam
di lubuh dada dewa cinta yang dimabuk kegelisahan
dan beningnya membuat kurindu
seperti sang embun diemperan waktu
yang hanya dapat berjanji padaku
tapi aku adalah sejuta harapmu sendiri
berkejaran di riak waktu nan gemericik
menghitung jumlah cinta yang belum bisa kukalkulasikan
meski terus rindu menggebu-gebu
sebening embun di serambi rekahan kemarau batin
yang kau sisakan tanpa sengaja
dari kemarau keinginan untuk memilikimu
tapi aku adalah sejuta harapmu sendiri
yang aku sendiri tidak mengerti memilikimu
meski lama engkau sebenarnya sudah tertanam di situ
di hamparan sapana batin yang mulai meragu
tapi percayalah
aku masih merindukanmu
sebening rindu sang embun malam
pada ilalang liar di sapana kegelapan
milik kita, kau dan aku
sisa serpihan harap yang masih bersemayam
di lubuh dada dewa cinta yang dimabuk kegelisahan
dan beningnya membuat kurindu
seperti sang embun diemperan waktu
yang hanya dapat berjanji padaku
tapi aku adalah sejuta harapmu sendiri
berkejaran di riak waktu nan gemericik
menghitung jumlah cinta yang belum bisa kukalkulasikan
meski terus rindu menggebu-gebu
sebening embun di serambi rekahan kemarau batin
yang kau sisakan tanpa sengaja
dari kemarau keinginan untuk memilikimu
tapi aku adalah sejuta harapmu sendiri
yang aku sendiri tidak mengerti memilikimu
meski lama engkau sebenarnya sudah tertanam di situ
di hamparan sapana batin yang mulai meragu
tapi percayalah
aku masih merindukanmu
sebening rindu sang embun malam
pada ilalang liar di sapana kegelapan
milik kita, kau dan aku
Jumat, 25 Juni 2010
AKU RINDU KEMERDEKAAN
Bertualang mencari tapak kaki keesokkan
mengharap becek jalanan dari gerimis menjadi kenangan manis
untuk aku dan sang mentari pagi sebelum disaput awan
tapi aku tidak kuasa menanti hasil dari sisa air mata
yang kering diserap hujan menguap ke langit
sebagai tanda kepasrahanku pada derak derai waktu
Diam....
diam saja burung itu melihat daun kering
melayang-layang menghampiriku
mereka memperhatinkan aku tentang kepasrahan yang dipaksanakan
tapi itulah kenyataan
bumiku sudah tak ramah lagi
menuding-nudingkan jemarinya padaku dengan murka
penuh sumpah serapah
memponis munafik padaku
meski jujur, aku sebening air
tanpa selapang safana
karena aku tetap sadar akan hangatnya embun
setelah bercumbu dengan binar mentari
Diam....
akupun diam seperti pipit menatap daun kering
yang melayang-layang
menghampiri senja
seraya menghitung sisa napas yang kurajut
dengan segala rindu akan kemerdekaan sejati.
mengharap becek jalanan dari gerimis menjadi kenangan manis
untuk aku dan sang mentari pagi sebelum disaput awan
tapi aku tidak kuasa menanti hasil dari sisa air mata
yang kering diserap hujan menguap ke langit
sebagai tanda kepasrahanku pada derak derai waktu
Diam....
diam saja burung itu melihat daun kering
melayang-layang menghampiriku
mereka memperhatinkan aku tentang kepasrahan yang dipaksanakan
tapi itulah kenyataan
bumiku sudah tak ramah lagi
menuding-nudingkan jemarinya padaku dengan murka
penuh sumpah serapah
memponis munafik padaku
meski jujur, aku sebening air
tanpa selapang safana
karena aku tetap sadar akan hangatnya embun
setelah bercumbu dengan binar mentari
Diam....
akupun diam seperti pipit menatap daun kering
yang melayang-layang
menghampiri senja
seraya menghitung sisa napas yang kurajut
dengan segala rindu akan kemerdekaan sejati.
Selasa, 22 Juni 2010
PUISI TERBARU
AKU SANG NESTAFA
Seperti angin lembut di deras hujan petang ini
desirnya membelai fajar sebelum tertutup malam
tanpa cericit pipit yang lincah diantara ranting cemara
yang tak lelah menjajakan cinta pada binar mentari
aku bukan awan di hujung langit
yang akrab bencengkrama dengan musim
yang terus berganti seiring waktu
dan aku juga bukan petang yang akan datang
aku hanya helaan nafas kelelahan dari jaman
mengejar mentari dengan perlahan lahan
sampai tak terasa renta merayapi ketidak dewasaanku
karena terlena selalu menghitung waktu
aku hanyalah nyanyian petang
dari sederet nada kehidupan dari rangkaian melodi nestafa
sebelum cinta ini terkubur ketidak berdayaanku sendiri
entah lah....
aku trak pernah mengerti semua itu
Seperti angin lembut di deras hujan petang ini
desirnya membelai fajar sebelum tertutup malam
tanpa cericit pipit yang lincah diantara ranting cemara
yang tak lelah menjajakan cinta pada binar mentari
aku bukan awan di hujung langit
yang akrab bencengkrama dengan musim
yang terus berganti seiring waktu
dan aku juga bukan petang yang akan datang
aku hanya helaan nafas kelelahan dari jaman
mengejar mentari dengan perlahan lahan
sampai tak terasa renta merayapi ketidak dewasaanku
karena terlena selalu menghitung waktu
aku hanyalah nyanyian petang
dari sederet nada kehidupan dari rangkaian melodi nestafa
sebelum cinta ini terkubur ketidak berdayaanku sendiri
entah lah....
aku trak pernah mengerti semua itu
Minggu, 09 Mei 2010
PUISI
PILSAFAT HIDUP
( RUDI, S.Pd. )
Hidup laksana air
mengalir mengikuti riak waktu
menjelajah alur kemauan dan harapan
menuju muara yang tak dibatasi hujung kepuasan
Hidup ibarat arus
Membawa kita pada kebebasan menentukan pilihan
Menjadi “BATU ?”
kokoh menahan deras dan riak pada ego kekuatan dada
membiarkan ombak menampar – nampar duka
abaikan pasir mendera – dera luka
Atau menjadi “IKAN ?”
Mengadabtasi sesuka hati
Larut dalam arus, atau sesekali mampu melawan arus.
mengikuti naluri
mengembara seisi musim dengan insting
rela membayar duka dengan cinta
dan mengabulkan semua yang dipinta alam
meski harus menebusnya dengan regangan nyawa
Mungkin jadi “DAUN KERING ?”
Jatuh luluh tertiup angin
Melayang tanpa arah bersama riak gelombang
dan pasrah tanpa bantah dalam ketidakberdayaan
Tersangkut ranting
Terhempas badai
lantas tenggelam terkubur lumpur
Atau membusuk di akar rerumputan liar
Menjadi apa pun pilihan kita
Hanya kita sendiri yang bisa
Karena hasilnya jadi milik kita juga,
SEPERTI SEPINYA HATI
( RUDI, S.Pd. )
Katakan pada derai hujan yang merintih di kegelapan malam
Aku menunggu mentari yang terbit esok hari
Menitipkan harap di bersit sinarnya
Moga dapat menghangatkan jiwa
Menyibak luka
Menghibur sepi di hati
Setelah semalaman merangkai doa
Menguntai pinta pada Sang Maha
Agar kelam legamnya bumiku
Dari polusi keserakahan dan nafsu
Dari pertengkaran para pemain sandiwara di persada
Yang bergulat memperjungkan kuasa
Untuk kemudian perlahan sirna
Tersibak sinarmu nan membawa berjuta penantian
Berganti hangat sampai seharian, nanti
Dan mengubah sepi seperti sepinya hati
Berganti suka cita yang abadi
Dan terus merona citra dalam cinta
Jauh di lubuk bumiku yang sudah tak muda lagi.
DENIS…. BUKAN RUMPUT LIAR LAGI
( RUDI, S.Pd. )
Merumpun tumbuh di tanah kering
Bersahabat dengan hamparan tanah retak dibakar kemarau
Ilalang pun menatapnya dengan wajah penuh cibiran benci
Menganggapnya tak berarti
Hati-hati kupindahkan kau di taman depan rumahku
Taman kecil yang tak memiliki rumput, kecuali pot-pot bunga tanpa keakraban
Kutanam kau dekat jabangan di sisi aliran air sejuk penuh derai kasih
Membiarkan embun mencumbui hari-hari indah bersama recup surya
Anggrek, melati, juga mawar menemani kau selalu
Menghantarkan semua harapan menjadi kenyataan
Hingga kuning daunmu yang dulu, berubah hijau segar menatap langit biru
Penuhi sekujur taman sampai ke sisi pagar bak permadani
Rumput liar kini bersahaja tanpa nestafa
Hijaukan tamanku yang dulu hanya bunga di pot-pot tanpa keakraban
Kini kau cipta kehangatan cinta kasih laksana pelangi seribu warna
Betahkan embun bercanda dengan belalang kecil yang bersahabat
Ia hadir pernuh arti sekarang, tanpa cibiran benci ilalang angkuh di asalnya dulu
Denis bukan lagi rumput liar kini, karena kau menghijau jauh di lubuk hatiku
(Denis seorang pngamen kecil di terminal Baranang Siang Bogor yang kini jadi anak penuh arti di rumahnya yang baru.)
AKU
( RUDI, S.Pd. )
Aku adalah lilin
Luluh lebur demi pijar nan menerangi
Tapi bukan untukku sendiri
Aku adalah embun
Berkilau di hujung bunga dan daun
sejukan bumi selepas malam yang mengayun
basahi tanah di sela rerumputan nan merumpun
Meski kan sirna kemudian, terhempas angin yang mengalun
Aku adalah Oksigen
Menyeruak dari klorofil hijaunya daun
Mengalir dalam darah demi kehidupan
Menjegal setiap kobaran pemanasan yang menghancurkan
Meski tak segelar pahlawan pun yang kan kurasakan
Aku adalah lilin
Aku juga Embun
Dan aku oksigen
Yang lahir dan sirna bukan hanya untukku sendiri
Meski tak segelar pahlawan pun yang kan kurasakan
Sampai nanti
Sampai bumi tak bersahaja lagi
BUNDA
( RUDI, S.Pd )
Saat gundah tak kuasa terjemahkan resah,
bunda hadir suguhkan secangkir senyum manis kehangatan.
adalah kau pelipur dahaga saat nestapa melanda jiwa “nanda”.
adalah kau jua berikan cahaya manakala kelam mengancam.
dan kau adalah muara cinta yang senantiasa kudamba.
Bunda, telaga kasih sayang tak terukur luas dan dalamnya.
harum bau wangi surgawi membahana pada setiap langkah dan ucap nasihatmu.
sabarmu tergambar pada setiap helaan napas yang terkadang terengah karena lelah.
hadirmu jadi pinta “nanda” saat gersang melanda batin dari kemarau panjang.
Bunda……
Di 60 tahun perjalanan waktu yang telah kau tapaki
Ijinkan “nanda” bersimpuh dikedua kakimu
Menghatur maaf nan tak terhingga dari lubuk teramat dalam
Sebab “nanda” belum jua mampu berikan harapan terbaikmu
yang sering kau kumandangkan sampai ke langit nun jauh sana
menembus awan sampai ke ubun-ubun pertiwi lewat do’amu.
SERANGKUM DO’A UNTUK PERTIWIKU
(RUDI, S.Pd)
Maafkan pertiwiku yang cantik molek
Bentang menjambrud katulistiwa sampai ke laut, gunung dan samudera
Aku tak kuasa menahan cinta di dada yang bergemuruh berombak badai
Inginkan terus bercumbu dengan elok paras wajahmu
Bersama gemulai tarian adat budaya yang kau punya
Semua ingin kunikmati sepanjang hanyat bersemayam di raga
Namun belakangan waktu kau nampak murung
Pantai landai ternoda bencana
Gunung biru diguncang prahara gempa menggema
Sawah ladang terkena hama
Tikus – tikus merusak perkantoran, tak kenal batas waktu
Hukum tak lagi jadi pagar kokoh pembatas parit, sungai bahkan lautmu
Aku tak kuasa melihatmu seperti itu
Kau dirundung nestafa duhai pertiwiku tercinta
Demi cinta yang kupunya
Kupunguti rasa setia yang porak poranda
Kubangun kembali pondasi kasih dengan susah payah
Seraya kurangkumkan do’a untukmu pertiwiku
Lekaslah sembuh dari segala nestafamu
Dan kembalilah menjadi pertiwiku seperti dulu
( RUDI, S.Pd. )
Hidup laksana air
mengalir mengikuti riak waktu
menjelajah alur kemauan dan harapan
menuju muara yang tak dibatasi hujung kepuasan
Hidup ibarat arus
Membawa kita pada kebebasan menentukan pilihan
Menjadi “BATU ?”
kokoh menahan deras dan riak pada ego kekuatan dada
membiarkan ombak menampar – nampar duka
abaikan pasir mendera – dera luka
Atau menjadi “IKAN ?”
Mengadabtasi sesuka hati
Larut dalam arus, atau sesekali mampu melawan arus.
mengikuti naluri
mengembara seisi musim dengan insting
rela membayar duka dengan cinta
dan mengabulkan semua yang dipinta alam
meski harus menebusnya dengan regangan nyawa
Mungkin jadi “DAUN KERING ?”
Jatuh luluh tertiup angin
Melayang tanpa arah bersama riak gelombang
dan pasrah tanpa bantah dalam ketidakberdayaan
Tersangkut ranting
Terhempas badai
lantas tenggelam terkubur lumpur
Atau membusuk di akar rerumputan liar
Menjadi apa pun pilihan kita
Hanya kita sendiri yang bisa
Karena hasilnya jadi milik kita juga,
SEPERTI SEPINYA HATI
( RUDI, S.Pd. )
Katakan pada derai hujan yang merintih di kegelapan malam
Aku menunggu mentari yang terbit esok hari
Menitipkan harap di bersit sinarnya
Moga dapat menghangatkan jiwa
Menyibak luka
Menghibur sepi di hati
Setelah semalaman merangkai doa
Menguntai pinta pada Sang Maha
Agar kelam legamnya bumiku
Dari polusi keserakahan dan nafsu
Dari pertengkaran para pemain sandiwara di persada
Yang bergulat memperjungkan kuasa
Untuk kemudian perlahan sirna
Tersibak sinarmu nan membawa berjuta penantian
Berganti hangat sampai seharian, nanti
Dan mengubah sepi seperti sepinya hati
Berganti suka cita yang abadi
Dan terus merona citra dalam cinta
Jauh di lubuk bumiku yang sudah tak muda lagi.
DENIS…. BUKAN RUMPUT LIAR LAGI
( RUDI, S.Pd. )
Merumpun tumbuh di tanah kering
Bersahabat dengan hamparan tanah retak dibakar kemarau
Ilalang pun menatapnya dengan wajah penuh cibiran benci
Menganggapnya tak berarti
Hati-hati kupindahkan kau di taman depan rumahku
Taman kecil yang tak memiliki rumput, kecuali pot-pot bunga tanpa keakraban
Kutanam kau dekat jabangan di sisi aliran air sejuk penuh derai kasih
Membiarkan embun mencumbui hari-hari indah bersama recup surya
Anggrek, melati, juga mawar menemani kau selalu
Menghantarkan semua harapan menjadi kenyataan
Hingga kuning daunmu yang dulu, berubah hijau segar menatap langit biru
Penuhi sekujur taman sampai ke sisi pagar bak permadani
Rumput liar kini bersahaja tanpa nestafa
Hijaukan tamanku yang dulu hanya bunga di pot-pot tanpa keakraban
Kini kau cipta kehangatan cinta kasih laksana pelangi seribu warna
Betahkan embun bercanda dengan belalang kecil yang bersahabat
Ia hadir pernuh arti sekarang, tanpa cibiran benci ilalang angkuh di asalnya dulu
Denis bukan lagi rumput liar kini, karena kau menghijau jauh di lubuk hatiku
(Denis seorang pngamen kecil di terminal Baranang Siang Bogor yang kini jadi anak penuh arti di rumahnya yang baru.)
AKU
( RUDI, S.Pd. )
Aku adalah lilin
Luluh lebur demi pijar nan menerangi
Tapi bukan untukku sendiri
Aku adalah embun
Berkilau di hujung bunga dan daun
sejukan bumi selepas malam yang mengayun
basahi tanah di sela rerumputan nan merumpun
Meski kan sirna kemudian, terhempas angin yang mengalun
Aku adalah Oksigen
Menyeruak dari klorofil hijaunya daun
Mengalir dalam darah demi kehidupan
Menjegal setiap kobaran pemanasan yang menghancurkan
Meski tak segelar pahlawan pun yang kan kurasakan
Aku adalah lilin
Aku juga Embun
Dan aku oksigen
Yang lahir dan sirna bukan hanya untukku sendiri
Meski tak segelar pahlawan pun yang kan kurasakan
Sampai nanti
Sampai bumi tak bersahaja lagi
BUNDA
( RUDI, S.Pd )
Saat gundah tak kuasa terjemahkan resah,
bunda hadir suguhkan secangkir senyum manis kehangatan.
adalah kau pelipur dahaga saat nestapa melanda jiwa “nanda”.
adalah kau jua berikan cahaya manakala kelam mengancam.
dan kau adalah muara cinta yang senantiasa kudamba.
Bunda, telaga kasih sayang tak terukur luas dan dalamnya.
harum bau wangi surgawi membahana pada setiap langkah dan ucap nasihatmu.
sabarmu tergambar pada setiap helaan napas yang terkadang terengah karena lelah.
hadirmu jadi pinta “nanda” saat gersang melanda batin dari kemarau panjang.
Bunda……
Di 60 tahun perjalanan waktu yang telah kau tapaki
Ijinkan “nanda” bersimpuh dikedua kakimu
Menghatur maaf nan tak terhingga dari lubuk teramat dalam
Sebab “nanda” belum jua mampu berikan harapan terbaikmu
yang sering kau kumandangkan sampai ke langit nun jauh sana
menembus awan sampai ke ubun-ubun pertiwi lewat do’amu.
SERANGKUM DO’A UNTUK PERTIWIKU
(RUDI, S.Pd)
Maafkan pertiwiku yang cantik molek
Bentang menjambrud katulistiwa sampai ke laut, gunung dan samudera
Aku tak kuasa menahan cinta di dada yang bergemuruh berombak badai
Inginkan terus bercumbu dengan elok paras wajahmu
Bersama gemulai tarian adat budaya yang kau punya
Semua ingin kunikmati sepanjang hanyat bersemayam di raga
Namun belakangan waktu kau nampak murung
Pantai landai ternoda bencana
Gunung biru diguncang prahara gempa menggema
Sawah ladang terkena hama
Tikus – tikus merusak perkantoran, tak kenal batas waktu
Hukum tak lagi jadi pagar kokoh pembatas parit, sungai bahkan lautmu
Aku tak kuasa melihatmu seperti itu
Kau dirundung nestafa duhai pertiwiku tercinta
Demi cinta yang kupunya
Kupunguti rasa setia yang porak poranda
Kubangun kembali pondasi kasih dengan susah payah
Seraya kurangkumkan do’a untukmu pertiwiku
Lekaslah sembuh dari segala nestafamu
Dan kembalilah menjadi pertiwiku seperti dulu
Senin, 08 Februari 2010
SATU LAGI PUISI HUMOR
MAAFKAN YANK..!!
(Rudi, S.Pd)
Banyak hal.....
membuat aku gak mau ke Mall, yank.
AC buat kulitku kering mengkerut
Mata gak kuat liar aurat.
Males keliling, bikin pusing.....
banyak hal.......
membuat aku malas ke Mall, yank.
jauh dari rumah.....
gak punya kendaraan....
gak punya teman kencan
gak sanggup lama di jalanan....
gak punya uang jajan
Maafkan aku, yank
bukannya aku gak sayang
tapi sumpah, aku gak punya uang
COBA DIAM !!
(Rudi, S.Pd)
Ribut terus tak kenal waktu.
teriak-teriak tanpa jemu
kerbau, kambing dipaksa bantu
telor, tomat senjatamu
Coba diam, jangan menghujat
kita ini negri beradat
lama-lama rakyat bersekat
ujung cerita malah melarat
atau malah jadi sekarat
Demokrasi jungjunglah tinggi
pijakan kita tetap religi
jangan demi unjuk gigi
korbankan cinta, atur strategi keji...
Coba diam jangan mengkritik
kendalikan hati, hindari sirik
kotak katik main politik
susah payah ciptakan intrik
buahkan masalah semakin pelik
mau jadi apa ini republik?
AYAHKU HEBAT...
(Rudi, S.Pd)
Ayahku hebat...
bukan karena pejabat..
bukan karena orang terhormat
bukan karena konglomerat
bukan karena jago silat
bukan karena rumahnya bertingkat
Ayahku hebat....
tak mau hidup terikat
mengubah cinta jadi semangat
membela rakyat
dari ancaman hidup melarat
Ayahku hebat sekali
bukan karena selalu berdasi
bukan karena besar nyali
Bukan karena bisnis di sana sini
tapi karena ia benci korupsi
(Rudi, S.Pd)
Banyak hal.....
membuat aku gak mau ke Mall, yank.
AC buat kulitku kering mengkerut
Mata gak kuat liar aurat.
Males keliling, bikin pusing.....
banyak hal.......
membuat aku malas ke Mall, yank.
jauh dari rumah.....
gak punya kendaraan....
gak punya teman kencan
gak sanggup lama di jalanan....
gak punya uang jajan
Maafkan aku, yank
bukannya aku gak sayang
tapi sumpah, aku gak punya uang
COBA DIAM !!
(Rudi, S.Pd)
Ribut terus tak kenal waktu.
teriak-teriak tanpa jemu
kerbau, kambing dipaksa bantu
telor, tomat senjatamu
Coba diam, jangan menghujat
kita ini negri beradat
lama-lama rakyat bersekat
ujung cerita malah melarat
atau malah jadi sekarat
Demokrasi jungjunglah tinggi
pijakan kita tetap religi
jangan demi unjuk gigi
korbankan cinta, atur strategi keji...
Coba diam jangan mengkritik
kendalikan hati, hindari sirik
kotak katik main politik
susah payah ciptakan intrik
buahkan masalah semakin pelik
mau jadi apa ini republik?
AYAHKU HEBAT...
(Rudi, S.Pd)
Ayahku hebat...
bukan karena pejabat..
bukan karena orang terhormat
bukan karena konglomerat
bukan karena jago silat
bukan karena rumahnya bertingkat
Ayahku hebat....
tak mau hidup terikat
mengubah cinta jadi semangat
membela rakyat
dari ancaman hidup melarat
Ayahku hebat sekali
bukan karena selalu berdasi
bukan karena besar nyali
Bukan karena bisnis di sana sini
tapi karena ia benci korupsi
Senin, 01 Februari 2010
PUISI HUMOR
CICAK KOK LAWAN BUAYA
(Rudi, S.Pd)
Ayo lari......
ayo lari.....
cepat lari....
ada cicak berkelahi
Ayo cepat...
ayo cepat...
Cepat... cepat
cicak teriak tapi tersedak
walah... walah...
walah...walah
aduh biung.....
aduh astaga....
ada cicak lawan buaya
KENAPA...?
Kenapa kamu keluyuran ?
- Aku pengangguran....
Kenapa tidak melamar kerja..?
- ijazahnya tidak punya.
Kenapa tidak coba jadi TKI?
- Aku takut mati.
Kenapa tidak kuli tani saja ?
- aku gak bisa.
Kenapa......?
- karena aku masih balita
MALAM LEGAM
Hujan gerimis ditengah malam
sepi mencekam membuat seram
mataku penat sulit terpejam
lampu padam semakin kelam
Aku ke luar menembus malam
muka ku legam, tembok terhantam
dasar kelam begitu kejam
kotoran ayam sempat kugenggam
(Rudi, S.Pd)
Ayo lari......
ayo lari.....
cepat lari....
ada cicak berkelahi
Ayo cepat...
ayo cepat...
Cepat... cepat
cicak teriak tapi tersedak
walah... walah...
walah...walah
aduh biung.....
aduh astaga....
ada cicak lawan buaya
KENAPA...?
Kenapa kamu keluyuran ?
- Aku pengangguran....
Kenapa tidak melamar kerja..?
- ijazahnya tidak punya.
Kenapa tidak coba jadi TKI?
- Aku takut mati.
Kenapa tidak kuli tani saja ?
- aku gak bisa.
Kenapa......?
- karena aku masih balita
MALAM LEGAM
Hujan gerimis ditengah malam
sepi mencekam membuat seram
mataku penat sulit terpejam
lampu padam semakin kelam
Aku ke luar menembus malam
muka ku legam, tembok terhantam
dasar kelam begitu kejam
kotoran ayam sempat kugenggam
Langganan:
Komentar (Atom)
